BYD Bawa Teknologi Dual Mode ke Indonesia, Incar Pasar yang Mesin Konvensional Masih Dominasi

Google News Icon

JAKARTA, BERANDANEWS.NET – Dengan pangsa pasar kendaraan berbahan bakar konvensional masih menyentuh 65 persen, produsen otomotif asal China itu melihat celah besar: menghadirkan kendaraan elektrifikasi yang tak menuntut pengguna sepenuhnya meninggalkan pompa bensin.

Pangsa pasar kendaraan listrik nasional tumbuh dari kurang dari satu persen pada 2022 menjadi 20 persen di kuartal pertama 2026 — angka yang mencerminkan lompatan adopsi yang jarang terjadi dalam sejarah industri otomotif Indonesia. Namun di balik angka itu, sekitar 65 persen pasar kendaraan penumpang masih dikuasai mesin konvensional berbahan bakar. BYD membaca kondisi ini bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk memperkenalkan teknologi Dual Mode (DM) ke Indonesia.

Angka kunci pasar NEV Indonesia

  1. <1% Pangsa pasar EV nasional pada 2022
  2. 20% Pangsa pasar EV kuartal I 2026 (kendaraan penumpang)
  3. 65% Pasar masih dikuasai kendaraan bermesin konvensional
  4. 90 rb Unit kendaraan BYD di jalan Indonesia hingga kini

Teknologi DM — singkatan dari Dual Mode — menggabungkan sistem kendaraan listrik murni (EV) dengan mesin pembakaran internal dalam satu platform terintegrasi. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab dua tantangan utama yang kerap menjadi alasan masyarakat Indonesia menunda beralih ke kendaraan listrik: infrastruktur pengisian daya yang belum merata dan kekhawatiran soal jangkauan saat melintasi jalur antarkota.

“Industri otomotif global tengah memasuki fase transformasi besar menuju era New Energy Vehicles. Teknologi yang benar-benar bernilai harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.”

— Liu Xueliang, Vice President BYD Co., Ltd. & General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division

REKAM JEJAK GLOBAL

BYD bukan pendatang baru di segmen ini. Perusahaan mengklaim posisi sebagai pelopor global teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dengan catatan penjualan kumulatif lebih dari 7 juta unit kendaraan PHEV di seluruh dunia. Teknologi DM pertama kali diluncurkan pada 2008 dalam wujud DM 1.0, dan terus diperbarui lintas generasi hingga versi terbaru DM 5.0 yang diperkenalkan pada 2024 dengan pendekatan electric-first — memprioritaskan tenaga listrik dalam penggunaan sehari-hari.

Pada 2025, BYD mencatat penjualan global lebih dari 4,6 juta unit kendaraan energi baru. Kendaraan berteknologi BYD kini hadir di lebih dari 121 negara, dengan total penjualan kendaraan energi baru yang telah melampaui 16 juta unit secara kumulatif.

KONTEKS INDONESIA

Di pasar domestik, BYD dan sub-brand premium DENZA mencatat penjualan hampir 20.000 unit hingga April 2026, tumbuh sekitar 53 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Keduanya bersama menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar EV nasional. Meski tren positif, penetrasi teknologi PHEV di Indonesia masih di bawah satu persen — angka yang menempatkan segmen ini sebagai ceruk yang belum tersentuh.

Kondisi geografis Indonesia turut membentuk logika bisnis di balik peluncuran DM. Dengan karakteristik wilayah yang luas dan konektivitas antar-pulau yang masih bergantung pada moda darat, kendaraan yang hanya mampu berjalan sejauh 400–500 kilometer per pengisian akan terasa terbatas bagi konsumen di luar Pulau Jawa. Dalam pengujian internal, BYD mengklaim DM mampu menempuh lebih dari 1.800 kilometer dalam kombinasi penggunaan tenaga listrik dan bahan bakar penuh, dengan konsumsi bahan bakar mencapai 65 km/liter.

“Kami ingin menghadirkan solusi mobilitas yang dapat melengkapi pertumbuhan pasar NEV agar semakin meluas dan inklusif — tidak hanya di kota besar, tetapi di berbagai wilayah Indonesia.” — Eagle Zhao, President Director PT BYD Motor Indonesia

TIGA VARIAN, SATU FILOSOFI

BYD memperkenalkan tiga karakter teknologi DM sekaligus. DM-i (Dual Mode Intelligent) difokuskan untuk efisiensi dan kenyamanan penggunaan harian di perkotaan, dengan motor listrik sebagai penggerak utama. DM-p (Dual Mode Powerful) mengoptimalkan kolaborasi motor listrik dan mesin untuk respons tenaga yang lebih agresif dan karakter berkendara yang lebih dinamis. Sementara DMO (Dual Mode Off-road) menyasar pengguna yang membutuhkan kestabilan dan torsi tinggi di medan jalan yang menantang.

Dalam penggunaan perkotaan, sistem DM akan memprioritaskan tenaga listrik untuk menghadirkan pengalaman yang senyap dan efisien. Saat melintasi jalur luar kota, sistem beralih ke kombinasi listrik dan mesin secara otomatis. Di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur pengisian, mesin mengambil alih untuk memastikan perjalanan tetap berlangsung tanpa hambatan.

Untuk merangkum keunggulan teknologinya, BYD memperkenalkan filosofi G.A.S.S. sebagai empat karakter utama DM di pasar Indonesia:

  1. Gesit

    Respons tenaga instan, akselerasi halus di segala kondisi

  2. Andal

    Adaptif dari jalanan kota hingga rute jarak jauh

  3. Senyap

    Kabin minim suara dan getaran berkat penggerak listrik

  4. Super Irit

    Efisiensi bahan bakar tinggi, biaya operasional lebih rendah

Strategi BYD menempatkan EV dan DM bukan sebagai produk yang bersaing, melainkan saling melengkapi dalam ekosistem kendaraan energi baru. EV tetap menjadi arah jangka panjang menuju mobilitas berkelanjutan, sementara DM hadir sebagai jembatan bagi konsumen yang belum siap sepenuhnya meninggalkan infrastruktur bahan bakar yang sudah ada. Keberhasilan pendekatan ini akan diuji oleh satu pertanyaan sederhana: apakah harga jual akhir DM cukup kompetitif untuk memenangkan hati konsumen yang selama ini setia pada mesin konvensional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button